Tak banyak orang yang mengenal
filsafat teknologi. Karena filsafat umumnya kita kenal sebagai mahailmu yang
membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan eksistensi manusia, Tuhan ataupun
Wujud (realitas). Untuk itu menghubungkan filsafat dan teknologi akan terkesan
tak biasa. Padahal filsafat teknologi adalah salah satu genre dalam ranah
filsafat yang dapat dikatakan banyak menarik perhatian para filsuf. Heidegger,
Habermas, Jacques Ellul, Don Ihde dan Andrew Feenberg adalah beberapa contoh
filsuf yang memberikan perhatian pada hakikat teknologi dalam dunia-kehidupan.
Pertanyaan tentang hakikat
teknologi sebenarnya sudah muncul sejak zaman Yunani kuno (Aristoteles). Saat
itu dikenal terma filsafat: techne dan poiesis.
Heidegger mengungkap hal ini dalam bukunya The Question Concerning
Technology (1977). Techne dapat dijelaskan sebagai
pengetahuan tentang cara memproduksi atau mentransfomasikan, sedangkanpoiesis adalah
sebuah penyingkapan, yang dengannya sesuatu yang baru hadir di muka bumi. Pada
masa modern filsafat teknologi tidak hanya membahas techne,poiesis dan
kaitannya dengan dunia-kehidupan saja, tapi juga artifak atau teknofak yang tak
dapat dipungkiri mempengaruhi kehidupan dan juga kesadaran.
Heidegger adalah salah satu
filsuf yang membuka diskursus filsafat teknologi. Karakter dan hakikat teknik
(teknologi) bahkan sudah dibicarakan oleh Heidegger dalam buku besarnya Being
and Time(1927), yang kemudian dtuntaskan dalam bukunya The
Question Concerning Technology(1977). Menurut Heidegger hakikat teknologi
adalah bukan sesuatu yang bersifat teknologis, melainkan enframing; membuat,
mencipta atau mentransformasikan (yang kemudian mengungkapkan sesuatu yang
baru). Yang teknologis kemudian dimengerti bukan semata-mata yang teknis tetapi
juga yang reflektif filosofis.
Refleksi filosofis tentang
teknologi telah mencipta tanggapan yang berbeda-beda tentang hakikat teknologi.
Di Amerika misalnya dikenal sebuah gerakan atau perkumpulan anti-teknologi.
Gerakan ini bernama Neo-Luddite. Nama ini berasal dari Luddisme, yaitu sebuah
gerakan anti industrialisasi di Inggris pada awal abad 19. Gerakan ini sering
dikisahkan sebagai gerakan merusak mesin yang dilakukan oleh para buruh karena
mengancam lahan kerjanya, salah satunya diperkirakan orang yang bernama Ned
Ludd. Demikianlah Luddisme dikenal. Sekarang kita mengenal neo-luddite sebagai
gerakan anti teknologi. Gerakan yang mempunyai manifesto bahwa: biosphere itu
lebih utama daritechnosphere. Mesin misalnya menurut Neo-Luddite
merupakan dekadensi dalam peradaban. Ia telah mengambil alih kerja
(keterampilan tangan/seni) manusia—memproduksi secara massal. Gerakan ini
bahkan menolak produksi/percetakan buku atau kertas—padahal dikenal sebagai
gerakan kaum intelektual. Alasannya, produksi buku (kertas) secara masal telah
menghabiskan hutan-hutan di Eropa. Selain itu menurut mereka budaya baca buku
telah menghilangkan tradisi bercerita atau mendongeng.
Filsafat teknologi tentu tidak
terbatas pada bagaimana relasi manusia dengan artifak (dan teknofak) itu dapat
dijelaskan. Jacques Ellul, seorang pemikir dari Perancis dalam bukunya The
Technological Society (1964) melihat
teknologi (lebih spesifik dunia teknik) sebagai entitas yang otonom, manusia
tidak bisa mengontrol dan mengatasi kemajuan teknik. Hanya teknologi yang dapat
mengontrol dan mengatasi dirinya sendiri.
Dengan kata lain, implikasi etis,
sosiologis dan ekologis dari kemajuan teknik hanya dapat diatasi oleh teknik
itu sendiri. Untuk mengatasi persoalan limbah industri misalnya diperlukan
teknologi baru untuk mengolah atau mengatasi permasalahan limbah. Sehingga
teknik terus menerus maju untuk mengatasi kekurangan-kekurangan yang ada pada
dirinya. Ia bergerak dengan sendirinya layaknya sebuah organisme–bagian dari
laju evolusi kehidupan. Karena itu ia tidak dapat dikontrol, seperti monsternya
Frankenstein.
Bahkan Teknologi di sini
diandaikan seperti roh absolut Hegel yang bergerak secara masif mengontrol dan
menguasai dunia-kehidupan. Tidak ada kekuatan selain dunia teknik itu sendiri.
Karena teknik adalah syarat bagi kehidupan. Dengan kata lain orang yang tidak
menggunakan atau anti teknologi (teknik) akan dengan sendirinya tersingkir dan
tereliminasi dari dunia-kehidupan.
Gagasan Ellul tentu saja terkesan
ambisius. Mengapa kita tidak bisa mengontrolnya? Bukankah semua itu kreasi
manusia? Banyak pemikir melihat bahwa determinisme teknik adalah konsekuensi
dari ideologi modernisme, yang di dalamnya terdapat gagasan ideologis tentang
kemajuan dan perubahan. Sehingga gagasan deterministik mengandaikan sebuah
kondisi sejarah yang tak terelakkan, kita hidup dalam sebuah keniscayaan
sejarah yang menempatkan dunia teknik sebagai syarat-syaratnya.
Don Ihde, ahli fenomenologi dari
Amerika menanggapi dengan berbeda soal determinisme ini, bahkan dalam beberapa
hal menolaknya. Ia mengupas terlebih dahulu relasi teknologi dan kebudayaan
manusia. Argumen diawali dengan penjelasan tentang relasi hermeneutis dalam
konteks kultural, yaitu sebuah interpretasi yang terjadi ketika suatu budaya
menangkap atau menerima artifak teknologi kebudayaan lain. Don Ihde melihat
bahwa ada kegiatan hermeneutis ketika teknologi sebagai instrumen kultural
dimaknai dan diinterpretasikan secara berbeda; Yaitu ketika terjadi transfer
teknologi (Don Ihde,Technology and the Lifeworld: From Garden to
Earth, 1990: 125).
Nilai praktis teknologi dalam
proses transfer teknologi dapat diinterpretasikan secara berbeda bahkan tidak
dimengerti. Namun bila nilai praktis dapat dimengerti, proses transfer
teknologi menjadi mudah. Dapat dikatakan tidak ada kegiatan hermeneutis. Orang
Papua Nugini misalnya dapat mengkonversikan pisau/kapak dari batu menjadi
pisau/kapak dari besi karena nilai praktis yang dapat dimengerti atau sama.
Berbeda ketika mereka pertama kali melihat senapan. Mereka tidak mengerti nilai
praktis senapan. Perlu adanya kegiatan hermeneutis sebelum senapan menjadi
penting dan berguna. Jadi sama seperti kita pertama kali melihat komputer atau
teknologi lainnya. Orang yang tidak mengerti nilai praktis teknologi tentunya
akan bertanya-tanya ketika melihat benda teknologi tersebut.
Nilai praktis memberikan persepsi
yang berbeda dalam melihat teknologi. Setiap budaya misalnya mempunyai
teknologi yang sama, namun mempunyai nilai praktis yang berbeda. Di Cina pada
awalnya bubuk mesiu digunakan untuk petasan, perayaan-perayaan, berbeda dengan
di Barat yang menggunakan bubuk mesiu untuk senjata, peperangan. Begitu juga
tenaga angin (kincir angin), ia juga sama-sama dipakai di Barat dan juga di
Timur (Iran). Namun nilai praktisnya berbeda, di Barat tenaga angin membawa
banyak kegunaan, sedangkan di Iran hanya untuk tenaga irigasi. Jadi setiap
budaya mempunyai ekspresi berbeda tentang teknologi yang digunakannya.
Masing-masing mempunyai nilai praktisnya sendiri.
Berdasarkan interpretasi
antropologis, Don Ihde kemudian menyimpulkan bahwa teknologi itu inheren dengan
kebudayaan. Bila kita melihat contoh di atas benarlah bahwa setiap artifak
kebudayaan itu mengandung nilai teknologisnya sendiri. Setiap budaya menggunakan
instrumen teknologi (artifak) sesuai dengan tradisi yang diturunkan, dan ia
bersifat unik. Karena itu teknologi inheren dengan budaya itu sendiri. Maka
pertanyaan pun beralih, apakah budaya itu dapat dikontrol atau tidak? Atau
apakah budaya itu bersifat determinisitik?
Tentu tidak semudah itu
mengatakan bahwa apakah budaya itu dapat dikontrol atau tak dapat dikontrol
(deterministik). Kata kontrol dalam konteks ini bermasalah. Karena dalam nalar
Don Ihde relasi manusia-teknologi (budaya) sudah mengandaikan adanya kegiatan
“mengontrol” dan “dikontrol” (Technology and the Lifeworld, 1990:
140). Untuk itu budaya-teknologi tidak dapat dipertanyakan apakah ia dapat
dikontrol atau tidak. Teknologi bukanlah monster yang berdiri bebas dan otonom.
Karena ia digunakan dan bersifat intensional, artinya manusia mempunyai
kebebasan untuk mengontrol dan dikontrol. Dalam konteks inilah Don Ihde menolak
asumsi metafisika deterministik dari teknologi.
Ketika setiap budaya mempunyai
ekspresi yang berbeda tentang teknologi, maka teknologi dipahami bersifat
non-netral. Bahkan Ihde melihat bahwa teknologi itu bersifat ambigu. Ketika
teknologi dimaknai sebagai kode-kode budaya maka ia pun dapat dimaknai secara
berbeda. Karenanya teknologi sebagai bagian inheren dari budaya bersifat
kontekstual dan mempunyai ciri multistabil (Technology and the Lifeworld,
1990: 144). Multistabilitas ini dapat dipahami sebagai pandangan khas/unik
setiap budaya dalam memahami dan menjelaskan dunianya. Jadi relasi teknik dan
relasi hermeneutis setiap budaya dalam menjelaskan dan memahami dunia itu
berbeda-beda
Karena pengalaman kebudayaan
berbeda-beda maka persepsi tentang teknologi pun berbeda. Mulstabilitas yang
terjadi pada relasi manusia-teknologi ini dapat dicontohkan dalam sistem
navigasional. Orang Barat mempunyai sistem yang baik untuk navigasi kapal, tapi
tetap tidak bisa mentransfer teknologi navigasionalnya ke suku-suku di Pasifik
Selatan. Artinya suku di Pasifik Selatan itu tetap tidak mengerti teknologi
navigasional orang Barat yang bersifat hermeneutis/representasional (penggunaan
kompas misalnya). Mereka tetap mempunyai teknologinya sendiri, seperti membaca
arah lewat pola-pola ombak atau pola bintang-bintang (relasi kemenubuhan).
Gagasan determinisme teknologi
tak dapat dimungkiri juga terkait dengan fenomena kesadaran dan relasinya
dengan artifak-artifak teknik. Habermas misalnya melihat bahwa kemajuan teknik
(teknologi) akhirnya menentukan kesadaran masyarakat modern. Self-understandingmasyarakat
modern tentang dunianya menurut Habermas dimediasikan oleh apropriasi
hermeneutis terhadap budaya teknologi yang bergerak secara teleologis. Ini
memberikan sebuah asumsi bahwa jaring-jaring logika teknik kemudian menjadi
determinan utama kesadaran. Aksi-intensi kemudian ditentukan oleh logika dan
hukum yang berlaku dalam dunia teknologi.
Akibatnya menurut Habermas
pengejawantahan rasio melulu bersifat teknis, artinya dimensi praksis rasio
adalah kegiatan produktif yang hanya mengungkapkan nilai-nilai efesien dan
fungsional. Dimensi praksis rasio kemudian semata-mata dimengerti sebagai
aplikasi teknis yang merupakan penerapan sains dan rasionalitas. Hal inilah
yang kemudian menggejala dalam bentuk kontrol teknis terhadap alam. Sehingga
tujuan utama pencerahan (emansipasi sosial ) terlupakan. Ilmu pengetahuan
kemudian semata-mata dimengerti sebagai moda atau cara bagaimana mengontrol dan
memanipulasi alam. Inilah yang membuat masyarakat modern tenggelam dan
terarahkan oleh dimensi teknis dari pengetahuan. Padahal tujuan utama
pencerahan adalah emansipasi sosial yang terkait dengan kesadaran bahwa lewat
pengetahuan kita dapat melepaskan diri dari segala dogmatisme dan kepicikan.
Berbicara tentang teknologi dalam
konteks filsafat tentu tak lepas dari persoalan bagaimana kita secara ontologis
memahami dunia lewat instrumen teknik. Dalam nalar Heideggerian hal ini
menyangkut bagaimana interaksi kita terhadap dunia dapat dijelaskan dan diatasi
melalui instrumen.
Seperti kita ketahui pada zaman
kuno dunia dijelaskan lewat mitos, manusia mengkonstruksikan sebuah sistem
untuk menjelaskan dunianya lewat pengandaian-pengandaian mitologis. Sekarang
manusia menggunakan atau menciptakan instrumen untuk menjelaskan dan memahami
dunia. Instrumen teknologi secara perseptual kemudian merepresentasikan
realitas. Kita menggunakan teropong (teleskop) untuk melihat benda-benda di
kejauhan, termometer untuk mengukur suhu, atau mikroskop untuk melihat
partikel-partikel yang tak dapat dilihat secara telanjang oleh mata. Dunia
dihadirkan lewat instrumen teknologi.
Don Ihde membuat isitilah
hermeneutika teknik untuk menjelaskan fenomena tersebut di atas. Menurutnya,
teknologi itu sendiri adalah sebuah teks. Kita secara interpretif memahami
dunia lewat artifak teknologi sebagai sebuah teks (Technology and the
Lifeworld,1990: 81). Lebih jauh Hermenutika teknik adalah moda tentang
bagaimana manusia menginterpretasikan, membaca, dan memahami dunianya lewat
artifak teknologi. Misalnya pilot tidak melihat secara langsung dunia,
melainkan membaca lewat panel kontrol. Manusia dalam hal ini menggambarkan
dunia lewat sebuah teks atau instrumen teknologi.
Dalam hermenutika teknik juga
dikenal relasi kemenubuhan. Ini berarti instrumen teknologi dipahami sebagai
kepanjangan atau ekstensi dari fungsi tubuh. Artinya secara transparan dunia
ditampilkan oleh instrumen. Tidak ada jarak antara manusia dengan teknologi
dalam relasi kemenubuhan. Hal ini dapat diilustrasikan demikian: (I-Technology)-World.
Aku dan teknologi menjadi satu berhadapan dengan dunia. Jadi seperti seorang
buta dengan tongkatnya. Teknologi adalah tongkat yang digunakan untuk membaca
dan mengatasi dunia. (Aku-Tongkat)-Dunia. Relasi kemenubuhan dalam konteks
teknologi adalah relasi yang telah ada sejak manusia primitif. Sejak manusia
mulai membuat instrumen dari batu. Membuat instrumen untuk memperluas kemampuan
atau fungsi organ-organ tubuhnya. Instrumen teknik adalah mimesis dari fungsi
tubuh manusia.
Sekarang artifak teknologi telah
meluas tidak hanya sebatas nilai efesiensi dan fungsionalitas. Teknologi baru
yang berhubungan dengan dunia-kehidupan manusia sekarang terkait dengan
nilai-nilai yang mengundung unsur permainan. Bahkan di negara kurang maju ia
menjadi semacam perhiasan saja atau fashion. Misalnya ada suku-suku di Afrika
yang tidak dapat menerima dan mengerti budaya jam, mereka kemudian menganggap
jam tangan sebagai gelang perhiasan. Fungsionalitas jam tangan dalam hal ini
tak dapat dimengerti.
Seiring dengan pesatnya
perkembangan ilmu pengetahuan, dunia teknologi kemudian semakin sulit
dimengerti. Artinya cara kerja/sistem (teknis) artifak teknologi itu dalam
beberapa hal hanya dipahami oleh para ilmuwan atau teknisi saja. Sekarang
artifak teknologi tidak lagi sebatas instrumen untuk membaca dan memahami
dunia. Ia telah meluas dan membentuk dunianya sendiri. Yang teknis tidak lagi
terkait dengan pengalaman konkret, seperti analogi tongkat di atas. Teknologi
tidak hanya memberikan makna intrumental dan fungsional saja. Ia juga secara
ontologis membentuk dunianya sendiri.
Dapat dikatakan dunia teknologi
pada masa modern terbagi menjadi dua: dunia makna dan dunia teknis yang
tersembunyi. Seperti yang ungkapkan oleh Dr. Karlina Supelli (dalam seminar
terbatas “Technology and the Lifeworld“) bahwa ada pemilahan analitis
dalam dunia-teknologi, yaitu ranah makna dan ranah teknis.
ranah
teknis dapat dinterpretasikan sebagai dunia yang hanya dipahami dengan baik
oleh oleh para teknisi. Misalnya kebanyakan orang tidak mengerti mengapa AC
bisa membuat udara menjadi dingin atau mengapa besi bisa terbang di udara. Ini
berbeda dengan dunia makna yang menjelaskan artifak teknologi sebatas
fungsionalitasnya saja. Dengan kata lain instrumen tersebut sudah siap pakai.
Kita tinggal menggunakannya saja, dalam beberapa hal kita tidak mempedulikan
teknik atau cara kerjanya. Radio atau televisi dapat langsung kita nikmati,
kita terkadang tidak menyadari bahwa di dalamnya ada dunia teknik yang bekerja.
Dunia teknis kemudian menjadi dunia yang selalu terbungkus. Dunia yang makin
lama makin sulit dimengerti, semakin asing


